Bangun Smelter, Adaro Minerals Kantongi Kredit dari 5 Bank

Adaro akan Lakukan Limited Review Laporan Keuangan

PT Adaro Minerals Tbk. (ADMR), anak usaha dari kerajaan bisnis PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) milik Garibaldi ‘Boy’ Thohir, menampik kabar kesulitan menggalang dana dari pinjaman bank untuk memodali proyek smelter Aluminium milik perusahaan senilai US$ 2 miliar.

“Rumor tersebut tidak benar, kita tidak mengalami kesulitan dalam pendanaan proyek ini,” kata Direktur Adaro Minerals Wito Krisnahadi kepada CNBC Indonesia, Selasa (16/5).

Wito mengungkapkan, sudah ada sejumlah bank yang akan mendanai mega proyek smelter tersebut. Akan tetapi dia enggan memberikan keterangan yang lebih rinci terkait hal tersebut.

“Ada 5 bank yang akan terlibat dalam financing ini, namun maaf saya belum dapat memberikan rinciannya saat ini,” ujarnya

Secara terpisah, Head of Corporate https://meja138apk.com/ Communication Adaro Energy Indonesia Febriati Nadira menyebutkan bahwa saat ini perseroan sedang melakukan finalisasi kebutuhan pendanaan. “Udah mau take off,” ungkapnya saat dihubungi oleh CNBC Indonesia.

Menurutnya, pembangunan smelter aluminium ini sejalan dengan visi dan misi pemerintah untuk melakukan pengolahan mineral agar mendapatkan nilai tambah demi menunjang pendapatan dan devisa negara, serta berkontribusi untuk mengurangi impor aluminium.

“Kami mohon doa dan dukungan para pemegang saham agar penandatanganan fasilitas pinjaman dapat segera kami tuntaskan,” imbuhnya.

Isu ADMR kesulitan cari pendanaan karena muncul tudingan dari kelompok lingkungan yang menyebut Adaro dan mitranya, Hyundai dari Korea Selatan, melakukan greenwashing.

Hyundai tercatat akan menjadi penyerap produksi alumunium ADMR. Kedua perusahaan menyebut kerja sama tersebut akan mempercepat upaya transisi menuju energi terbarukan.

Adapun greenwashing adalah ungkapan untuk strategi pemasaran dan komunikasi yang dilakukan perusahaan dalam rangka membangun citra ramah lingkungan, tetapi hal tersebut hanyalah palsu.

 

Sebagai informasi, Indonesia pada bulan November dalam gelaran G20 dijanjikan pembiayaan sebesar US$ 20 miliar (Rp 300 triliun) dari AS dan negara maju lainnya untuk membantu menghentikan pembakaran bahan bakar fosil.

Kemudian, menurut laporan FT, bank-bank global yang sebelumnya memberikan pinjaman kepada grup Adaro, termasuk DBS Singapura, mengatakan bahwa mereka tidak terlibat dalam pembiayaan proyek smelter tersebut. Sumber FT juga menyebut Standard Chartered, yang terus bekerja sama dengan Adaro, juga tidak berpartisipasi dalam proyek tersebut.

Sumber lain yang merupakan eksekutif di salah satu bank global mengatakan “Adaro membahas pembiayaan dengan kami, tetapi kami telah berjanji untuk berhenti mendanai bisnis yang terkait dengan batu bara. [Proyek ini] termasuk dalam kategori itu.”

Hal ini karena terdapat proyek pembangunan PLTU batu bara 2,2 GW dalam proyek yang dilabeli hijau tersebut.

Tahun lalu pemerintah telah menerbitkan aturan terkait moratorium pembangunan PLTU baru lewat Peraturan Presiden (Perpres) No. 112 tahun 2022. Namun memberikan sejumlah pengecualian termasuk bagi yang masuk dalam proyek strategis nasional seperti proyek Green Industrial Park milik Adaro di Kalimantan Utara.

DBS dan bank lain telah berjanji untuk menghentikan pendanaan induk Adaro Energy sebagai bagian dari komitmen perubahan iklim.

Adaro juga dikabarkan telah mendekati bank-bank Eropa lainnya seperti BNP Paribas, ING dan Commerzbank untuk pinjaman.

Terpisah, Presiden Direktur Adaro Minerals Indonesia Christian Ariano Rachmat membantah perseroan melakukan greenwashing dari proyek smelter aluminium yang menggunakan pembangkit listrik batu bara di Kalimantan Utara (Kaltara).

Dia menjelaskan, perseroan akan bertransisi pada energi hijau. Perusahaan masih menggunakan bahan baku batu bara karena pembangkit listrik tenaga air baru dapat digunakan pada 2030.

“Kita mau bilang kita bukan greenwashing, jelas-jelas kita bilang kok aluminium. Ini akan dibangun pembangkitnya dari batu bara, kenapa dari batu bara karena hydro baru jadi 2030,” ujarnya dikutip Kamis (11/5).

Christian mengungkapkan, sebesar 75% dari smelter aluminium di dunia masih menggunakan pembangkit batu bara. Sisanya sebesar 25% memakai pembangkit listrik berbasis air, seperti di Rusia, Kanada, dan Brasil.

“Kita suatu hari mau buat yang namanya green aluminium tapi butuh waktu untuk nyampe sana, sampai hydro kita jadi,” tuturnya.

Pemegang Saham Demo Saat RUPS

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Adaro Energy sempat di demo oleh segelintir oknum pemegang saham yang protes terhadap proyek PLTU Smelter aluminium di Kalimantan Utara. Dua orang pemuda protes di hadapan manajemen dan pemegang saham lainnya pada saat penyelenggaraan RUPST.

“Adaro menghargai kebebasan setiap orang untuk mengemukakan pendapatnya,” kata Head of Corporate Communication Adaro Energy Indonesia Febriati Nadira kepada CNBC Indonesia, Jumat (12/5).

Menurutnya, sejalan dengan transisi menuju ekonomi hijau dengan Pembangunan Energi Baru Terbarukan yang tengah gencar dilakukan oleh pemerintah, Adaro juga berkomitmen untuk berkontribusi dengan mengembangkan kegiatan usahanya di bidang mineral hijau dan energi terbarukan, serta sedang melakukan penilaian atas peluang terkait ekosistem baterai, baik di hilir maupun di hulu.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*