Menghitung Runway GOTO-Grab-SEA, Siapa Paling ‘Panjang Umur’?

[DALAM] UNICORN

Perubahan iklim ekonomi global membuat raksasa teknologi terkapar, tidak terkecuali para pemain utama di Asia Tenggara. Investor mulai menyoroti, sampai seberapa jauh perusahaan-perusahaan tersebut bakal bertahan dengan kondisi merugi saat ini.

Bisa dibilang, saat ini ada tiga pemain kakap teknologi di ASEAN, yakni Grab, SEA Group, dan GoTo.

Ketiga perusahaan tersebut saling bersaing di beberapa sektor yang sama, misalnya Gojek besutan GoTo versus Grab di sektor ojek online dan jasa antar makanan; Tokopedia milik GoTo bersaing dengan Shopee punya SEA; dan ketiganya bertemu di sektor jasa keuangan digital.

Terbubung euforia perusahaan digital dalam satu dekade terakhir, banyak orang-orang berpikir bahwa batas pertumbuhan perusahaan tersebut hanyalah langit. Datangnya pandemi Covid-19 juga makin membuat perusahaan teknologi tumbuh pesat.

Namun, inflasi yang tinggi yang membuat bank sentral dunia, termasuk The Fed AS, mengerek suku bunga membuat mimpi para penganjur tech terhempas sejenak.

Maklum, suku bunga yang naik bisa membuat biaya modal makin mahal. Ini sebelum akhirnya musim dingin perusahaan tekno (tech winter) datang.

Pertumbuhan top line melambat tetapi tidak diikuti dengan menggendutnya kas, padahal beban-beban makin membengkak, membuat para investor perusahaan tekno mulai berpikir ulang soal profitabilitas.

Berinvestasi di sektor yang tinggi risiko di kala ekonomi dilanda ketidakpastian tentu bukan hal yang bijak. Harga saham perusahaan teknologi pun rontok dari langit sepanjang 2022. Valuasi mulai ke level yang lebih wajar.

Namun, kondisi pasca-pandemi dengan shock therapy dari bank sentral dunia, terutama The Fed Amerika Serikat (AS), membuka satu problema baru, yakni ketahanan kas di saat perusahaan masih merugi atau cash runway.

Secara sederhana, runway menunjukkan berapa lama kemampuan kas menjaga bisnis tetap beroperasi di tengah catatan rugi dan tanpa suntikan dana tambahan.

Di antara tiga nama di atas, Grab dengan likuiditas kas US$6,51 miliar hingga 31 Desember 2022 dan mengalami rugi usaha atau operating loss US$1,12 miliar sepanjang tahun lalu memiliki cash runway 5,8 tahun.

Angka tersebut terbilang lebih baik dibandingkan Sea yang punya runway 3,9 tahun. Sedangkan, GoTo yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode ticker GOTO punya daya tahan kas paling sedikit, hanya 1,4 tahun.

Melihat potensi kas seret itu, tahun ini bisa disebut sebagai upaya titik balik perusahaan teknologi dari babak belurnya tahun lalu, seiring aksi kerek suku bunga yang mulai memuncak dan perusahaan mulai berpikir soal bagaimana menjadi profit.

Apalagi, mencari pendanaan anyar sangat sulit di lingkungan permodalaan saat ini.

Sektor teknologi, yang dikenal dengan sifatnya yang high-growth tidak akan bisa terus bertahan menghadapi perlambatan ekonomi. Mencari laba pada akhirnya suatu hal yang harus dikejar.

Investor yang menekan untuk mengejar laba tersebut pada gilirannya membuat perusahaan berusaha mengenyahkan strategi ‘pertumbuhan harga mati’ ke jalur profitabilitas, yakni dengan meningkatkan monetisasi.

Shopee, misalnya, sudah membukukan contribution margin (CM)-sebagai indikator titik impas (breakeven)-positif per kuartal III 2022. Sedangkan segmen delivery Grab mengumumkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang disesuaikan dengan metrik tertentu (adjusted) positif pada kuartal ketiga tahun lalu.

Demi mengejar arus kas operasional positif, GoTo pada 16 Februari 2023 juga menyampaikan, target EBITDA yang disesuaikan perseroan akan positif pada kuartal empat 2023.

Selain itu, CM atau margin kontribusi Grup juga ditargetkan untuk positif pada kuartal pertama 2023. Ini artinya 4 kuartal lebih cepat dari target pada pedoman tahun sebelumnya.

Lebih lanjut, rasionalisasi beban juga dilakukan, seperti yang sedang terjadi dalam bentuk pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengurangan beban marketing dan semacamnya.

Ke depan, ruang ekonomi digital yang masih terbuka luas tentu menawarkan peluang besar untuk para startup teknologi, termasuk tiga nama di atas.

Hanya saja, yang perlu dicatat, normalisasi pengeluaran pasca-pandemi, era suku bunga tinggi, ketahanan kas, keterbatasan pencarian modal anyar di saat situasi makro yang tidak pasti, tampaknya masih akan menjadi risiko yang terus membayangi perusahaan teknologi ke depan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*