Sempat Tembus Rp 15.300/US$, Rupiah Melemah 2 Hari Beruntun

Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Rupiah melemah dua hari beruntun melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (3/3/2023). Bank Indonesia (BI) akhirnya meluncurkan instrumen operasi moneter Term Deposit Valuta Asing Devisa Hasil Ekspor (TD Valas DHE) belum mampu membuat rupiah melaju kencang, meski pelemahnya juga tipis saja.

Melansir data Refinitiv, rupiah melemah 0,13% ke Rp 15.295/US$ di pasar spot. Sebelumnya rupiah sempat melemah ke Rp 15.320/US$.

Dalam TD Valas DHE BI memberikan bunga yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan di Singapura.

Berdasarkan data dari Bahana Sekuritas suku bunga deposito valas yang diberikan BI berkisar antara 4,6% – 5,2% dengan tenor satu sampai enam bulan. Suku bunga tersebut lebih tinggi dari yang diberikan perbankan Singapura di kisaran 4,12% – 4,68%.

Dilihat sekilas kondisi kini berbalik, perbankan di Singapura terlihat perlu menaikkan suku bunga agar bisa mempertahankan deposito valas mereka.

Namun pada kenyataannya suku bunga yang diberikan perbankan Singapura saat ini bisa jadi lebih tinggi dari kisaran itu, tidak menutup kemungkinan sama dengan yang diberikan BI atau bisa saja lebih tinggi lagi. Sebab semakin tinggi nilai deposito pemilik dana tentunya bisa menegosiasikan bunga yang ingin diterima. Selain itu semakin panjang tenornya, maka suku bunga yang didapat juga semakin tinggi.

Namun, jika sukses menarik devisa yang ditempatkan di luar negeri tersebut, maka nilai tukar rupiah akan menjadi lebih stabil, bahkan tidak menutup kemungkinan menguat. Kebijakan BI ini berlaku efektif mulai 1 Maret lalu.

Meski demikian, Bahana Sekuritas menyebut masih terlalu dini menyebut kebijakan BI tersebut sebagai game-changer yang bisa menarik dolar AS masuk ke dalam negeri. Sebabnya, imbal hasil obligasi jangka pendek di Amerika Serikat hampir sama dengan bunga yang diberikan BI.

Berdasarkan data Refinitiv, imbal hasil obligasi AS (Treasury) tenor 6 bulan berada di kisaran 5,17%, nyaris sama dengan suku bunga tertinggi yang diberikan BI.
Dengan bank sentral AS (The Fed) yang diprediksi akan kembali menaikkan suku bunga dengan agresif, imbal hasil tersebut tentunya bisa semakin tinggi lagi, yang tentunya menjadi lebih menarik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*